Kegiatan High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan Dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), Antara Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu Dengan Pemerintah Provinsi. Senin, (15/12/2025). (Mata Dian.Com/Dian).
MataDian.Com – Bank Indonesia perwakilan Bengkulu bersama Pemerintah Provinsi Bengkulu, melaksanakan kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan Dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).
Kegiatan TPID dan TP2DD merupakan salah satu forum strategis untuk membutuhkan dan menyatukan langkah guna menjaga stabilitas ekonomi daerah, serta mendorong percepatan digitalisasi keuangan daerah.
Kegiatan dihadiri unsur Forkompinda dari Kabupaten dan Kota.Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Bengkulu, perwakilan pimpinan Bank Bengkulu, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi, Walikota, Bupati, Kepala OPD, Pimpinan Instansi Vertikal, Kabiro, Akademisi, serta rekan Wartawan. Berlangsung di Hotel Grage Horizon. Senin, (25/12/2025).
Dalam kesempatan itu, Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, memaparkan tentang terkaitnya realisasi inflasi Provinsi Bengkulu hingga November tahun 2025, prospek inflasi tahun 2026, serta perkembangan TP2DD di Provinsi Bengkulu.
Dalam kegiatan High Level Meeting, selaku Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Bengkulu menyampaikan dua hal yang sangat penting. yakni, terkait tentang TPID dan TP2DD.
Dalam pemaparannya, Wahyu Yuwana Hidayat mengatakan, bahwa TPID dan TP2DD merupakan hal sangat penting. Menurutnya, keduanya itu merupakan yang menjadi tantangan bagi pemangku jabatan di daerah dalam upaya mengatasi inflasi, karena permintaan pasar yang tinggi, terutama dalam rangka menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN).
“Dua hal ini (TPID dan TP2DD,red) menjadi hal yang sangat penting, karena tingginya permintaan. Terutama menjelang Hari besar Keagamaan Nasional,” papar Wahyu Yuwana Hidayat.
Untuk per-November 2025, Wahyu memaparkan pengendalian inflasi di Bengkulu berada di Level klasemen tengah, yaitu berada diangka 2,72, yang berarti, jika target inflasi Bengkulu 2,5 plus minus 1, pengendalian inflasi di Bengkulu berada di level klasemen ideal.
Sebelumnya, gubernur Bengkulu melalui Sekretaris Daerah, Herwan Antoni dalam sambutannya menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
“Pengendalian inflasi dan percepatan digitalisasi daerah tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta seluruh pemangku kepentingan agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan hasil rapat, Provinsi Bengkulu menunjukkan kinerja positif dalam menjaga stabilitas ekonomi hingga akhir tahun 2025. Pada November 2025, inflasi tahunan (year on year/yoy) Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 2,68 persen, relatif stabil dan sedikit di bawah inflasi nasional yang berada pada angka 2,72 persen. Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/mtm) tercatat sangat rendah, yakni 0,04 persen. Capaian tersebut mengantarkan TPID Provinsi Bengkulu meraih Juara II TPID Berkinerja Terbaik se-Sumatera.
Keberhasilan pengendalian inflasi ini didukung oleh sinergi kebijakan yang kuat, terutama melalui program unggulan TPID dalam mengendalikan volatilitas harga beras. Melalui program One Stop Solution Inflasi Beras yang dijalankan sejak tahun 2024, TPID Provinsi Bengkulu berhasil menurunkan harga jual beras dari Rp15.700 per kilogram menjadi Rp14.300 per kilogram. Program ini juga mampu meningkatkan produksi padi hingga 2 persen serta melipatgandakan keuntungan petani.
Selain itu, hingga November 2025, TPID Provinsi Bengkulu telah melaksanakan sebanyak 865 kali Operasi Pasar Murah serta melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar dan distributor untuk memastikan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga. Bank Indonesia turut mendukung upaya pengendalian inflasi melalui mobilisasi distribusi pangan lewat program Ado Galo Mobile guna meredam gejolak harga komoditas strategis seperti cabai, bawang, dan minyak goreng.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyampaikan bahwa stabilitas inflasi dan penguatan digitalisasi merupakan dua agenda utama yang saling melengkapi.
“Bank Indonesia berkomitmen mendukung pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga melalui penguatan sisi pasokan dan distribusi, sekaligus mendorong percepatan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Meski capaian inflasi dinilai cukup baik, rapat mencatat bahwa sektor pangan masih menjadi tantangan utama, khususnya pada komoditas volatile food seperti cabai merah yang terdampak gangguan cuaca dan distribusi. Menyikapi hal tersebut, TPID Provinsi Bengkulu telah menyusun roadmap pengendalian inflasi jangka menengah tahun 2025–2027 dengan fokus pada mitigasi risiko volatile food, penguatan kerja sama antar daerah, peningkatan praktik budidaya pertanian yang baik (good agricultural practices), optimalisasi logistik, serta peningkatan intensitas Operasi Pasar Murah Gabungan (OPIGPM). Inovasi Wakaf Produktif Pesantren (Wakaf Tren) juga didorong sebagai instrumen pendukung peningkatan kapasitas produksi pangan daerah.
Di sisi lain, HLM ini juga menegaskan komitmen percepatan dan perluasan digitalisasi daerah melalui penguatan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD). Akselerasi pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara nontunai, optimalisasi pemanfaatan Kartu Kredit Pemerintah Daerah (KKPD), serta digitalisasi pembayaran pajak dan retribusi daerah menjadi agenda utama TP2DD dalam mendorong tata kelola keuangan daerah yang lebih efisien, transparan, dan akuntabel.







