Dirut RSUD Sungai Lemau Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng), Ida Riyani. Rabu, (29/4/2026). (Mata Dian.Com/Dian).
MataDian.Com, BENGKULU TENGAH –Bupati Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng), Drs. Rahmat Riyanto, S.T., M.A.P., melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sungai Lemau.
Kunjungan dilakukan dalam rangka memastikan mutu pelayanan kesehatan di wilayahnya, Bupati Bengkulu Tengah melakukan pemantauan langsung ke RSUD Sungai Lemau.
Pemantauan ini difokuskan pada pelayanan di ruangan KRIS (Kelas Rawat Inap Standar) yang baru saja dioperasikan rumah sakit tersebut.
Direktur Utama RSUD Sungai Lemau, Ida Riyani, menyampaikan bahwa kehadiran Bupati bertujuan untuk meninjau secara langsung layanan yang telah dibuka.
“Alhamdulillah, kita sudah buka ruangan KRIS, yaitu kelas rawat inap standar. Beliau (Bupati) ingin memantau terkait pelayanan yang sudah dibuka ini,” ujar Ida, Rabu (29/4/2026)
Menurut Ida, RSUD Sungai Lemau menjadi satu-satunya rumah sakit di Bengkulu Tengah yang memiliki ruangan KRIS. Keberadaan ruangan ini merupakan bagian dari program PHTC (Program Hasil Terbaik Cepat) dari Presiden Prabowo Subianto.
“Ini menjadi unggulan yang bisa kita tampilkan untuk pelayanan kesehatan di Kabupaten Bengkulu Tengah. Kami menjadi satu-satunya daerah yang mendapatkan program ini,” tambahnya.
Ia merinci, saat ini RSUD Sungai Lemau menyediakan 10 ruangan KRIS yang masing-masing dilengkapi dengan empat tempat tidur, sehingga total kapasitas yang tersedia untuk layanan kelas standar ini mencapai 40 orang. Sementara itu, untuk pasien dengan penyakit khusus, Ida menegaskan bahwa ruangan isolasi tetap berada di gedung lama, yang diperuntukkan bagi pasien dengan penyakit menular.
“Untuk ruangan KRIS ini diperuntukkan bagi pasien dengan penyakit tidak menular. Yang menular sudah kami pisahkan sendiri,” jelasnya.
Kewaspadaan Dini Kasus Campak Meningkat
Dalam kesempatan yang sama, Ida Riyani mengungkapkan adanya peningkatan kasus penyakit campak di wilayah Bengkulu Tengah dalam sepekan terakhir.
“Seminggu ini kita sudah ada 4 orang pasien campak, dan kemarin bertambah 1 jadi 5 orang, baik dewasa maupun anak-anak,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Ida mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Ia menyebutkan bahwa faktor utama penyebab campak adalah rendahnya cakupan imunisasi.
“Ketika balita, harus ada imunisasi campak. Namun masih ada masyarakat yang kontra terhadap pemberian imunisasi,” tuturnya.
Ida menjelaskan bahwa peran utama dalam memberikan himbauan imunisasi dan pencegahan penyakit di masyarakat berada di tangan Puskesmas, sementara pihak rumah sakit berfungsi sebagai fasilitas rujukan.
“Rumah sakit itu sebagai rujukan. Yang lebih menghimbau dan turun ke masyarakat adalah wilayahnya Puskesmas. Jadi fungsi pekerjaannya harus dibedakan,” tegasnya.
Sebagai upaya internal menekan penularan, RSUD Sungai Lemau telah mengeluarkan imbauan bagi keluarga pasien yang terdiagnosis campak.
“Kami menghimbau, ketika ada masyarakat yang divonis atau didiagnosa penyakit campak, lebih ke keluarganya ya. Artinya, berkunjung tidak membawa anak-anak di bawah usia 12 tahun dan tidak beramai-ramai untuk mengurangi penularan,” pungkas Ida.







