Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Alaku Alaku Alaku Alaku

ANAS URBANINGRUM Catatan Zacky Antony

Sebelah Kiri : Zacky Antoni

LAPAS Sukamiskin, 11 April 2023, dipenuhi para pendukung Anas Urbaningrum. Hari itu, mantan Ketum Partai Demokrat ini bebas setelah menjalani vonis 8 tahun dalam kasus korupsi proyek Hambalang. Bebasnya Anas disambut gegap gempita dari para pendukung, simpatisan dan para sahabat. Acara penyambutan disiapkan khusus menyambut hari kebebasan itu.

Anas sejatinya bukan tergolong sosok kontroversial. Baik dari segi pemikiran, ucapan maupun tindakan. Justru dia termasuk kelompok politisi yang hemat berstatemen. Anas adalah tokoh muda Islam yang moderat. Pandangan-pandangannya menyatu dalam visi Keislaman dan Keindonesiaan. Konsepsi ini berakar dari HMI. Habitat tempat dia tumbuh dan dibesarkan.

Figur Anas adalah perpaduan dari dua seniornya di HMI yaitu Nurchollis Madjis (Cak Nur) dan Akbar Tanjung. Dia mewarisi DNA Cak Nur dari sisi intelektualitas. Tapi pada sisi lain, Anas juga menyerap style Akbar Tanjung dari segi berpolitik.

Anas memang tertarik dengan pemikiran Cak Nur dan langkah-langkah politik Akbar Tanjung. Bahkan, Anas menjadikan pemikiran Cak Nur sebagai objek penelitian ketika menyusun tesis S2 di UI. Judul tesisnya, Islam dan Demokrasi; Pemikiran Nurcholis Madjid.

Gagasan-gagasan Cak Nur, di mata Anas, meskipun kontroversial, telah memberi kontribusi tidak sedikit bagi demokratisasi di Indonesia. Pemikiran demokrasi Cak Nur berbasis pada paradigma Islam. Cak Nur menawarkan kehadiran Tuhan dalam demokrasi. Kontroversi Cak Nur yang sempat menghebohkan adalah slogan: *Islam Yes, Partai Islam No.*

Sementara sebagai politisi, Anas banyak kemiripan dengan Akbar Tanjung. Seperti gaya bicara dan kemampuan meredam emosi. Kalau lagi marah, orang tidak terbaca. Tenang dalam menghadapi lawan berdebat. Sabar menghadapi serangan. Keduanya juga punya instink politik yang tinggi dalam hal membaca arah angin politik berhembus.Akbar Tanjung sangat piawai dalam hal ini. Kapan harus melangkah maju dan kapan harus mundur. Ibarat papan catur, ketepatan menempatkan bidak, menentukan akhir permainan.

Anas adalah the rising star pada masa-masa reformasi. Namanya melambung berkat kiprah dan reputasinya yang relatif menonjol dalam pergerakan mahasiswa. Pada masa huru-hara demo 98, Anas berada dalam pusaran politik gerakan mahasiswa menuntut perubahan.

Posisi sebagai ketua umum PB HMI organisasi kemahasiswaan terbesar di tanah air, menyeret Anas banyak terlibat dalam merobohkan bangunan tua orde baru yang kusam dan tidak lagi relevan. Saat itu banyak yang menganggap dia salah satu calon pemimpin Indonesia di masa depan.

*Terpilih di Kongres Yogya*
Anas yang lahir 5 Juli 1969 merintis ke-HMI-an di Komisariat Fisipol Unair Surabaya. Dalam tempo relatif singkat, namanya melejit. Menjadi Ketua HMI Cabang Surabaya. Puncaknya Anas terpilih sebagai ketua umum HMI dalam Kongres XXI di Yogyakarta tahun 1997.

Inilah Kongres HMI yang pernah dicap Amien Rais sebagai kongres terburuk dalam sejarah HMI. Selain diwarnai hujan interupsi dan perdebatan panas, kongres ini juga diwarnai bentrok fisik antar peserta hingga “penculikan”.

Anas kemudian menemukan banyak momentum politik. Kebetulan tahun dia menjadi ketua umum adalah tahun-tahun politik. Dimulai Pemilu 1997, Golkar yang diketuai Harmoko kembali memenangkan Pemilu untuk ke-6 kalinya berturut-turut setelah 1971, 1977, 1982, 1987 dan 1992. Setahun berikutnya, Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden yang kelima kalinya.

Soeharto terpukau retorika Harmoko yang menyatakan sudah berkeliling Indonesia dan rakyat Indonesia masih menginginkan Soeharto kembali dipilih menjadi presiden. Padahal belakangan terungkap —salah satunya pengakuan Yusril Ihza Mahendra— saat itu pak Harto sebetulnya sudah mempertimbangkan untuk lengser keprabon. Andai saja waktu itu pak Harto tidak mencalon lagi sebagai presiden, mungkin jalan sejarah Indonesia akan lain.

Terpilihnya Soeharto direspon negatif oleh mahasiswa yang sudah mulai bergerak di akhir 1996. Saya masih ingat, di penghujung tahun itu, mimbar-mimbar bebas semakin sering diadakan di dalam kampus. Seminar-seminar, dialog tentang suksesi mulai disuarakan. Aspirasi mahasiswa ini coba diredam oleh penguasa. Tapi gagal.

Di sisi lain terpilihnya Anas Urbaningrum mendapat respon positif dari kalangan pergerakan mahasiswa. Bukan hanya di internal HMI, tapi sambutan positif juga datang dari eksternal HMI. Anas dianggap memiliki kapasitas intelektual mumpuni untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual kader-kader HMI serta mengembalikan independensi HMI yang waktu itu dinilai terlalu dekat dengan kekuasaan.

Sebagai aktivis muda, disamping punya kedalaman intelektualitas, di kalangan aktivis periode itu, Anas juga dikenal jago lobi dan berdiplomasi. Maklum, S1 dan S2 nya adalah ilmu politik. Terakhir dia juga mengambil S3 ilmu politik di UGM.

Sebelum Kongres, Anas turun ke cabang-cabang di tanah air. Dia “bermain” di tengah turbulensi politik sedang tidak menentu akibat gelombang protes di kampus-kampus. Voting kongres HMI, Anas unggul dengan 128 suara. Saingan terberatnya Viva Yoga Mauladi meraup 80 suara, Umar Husein 65 suara dan Muzakir Ridha 43 suara.

Anak-anak HMI memang dikenal piawai dalam kontestasi pemilihan-pemilihan di forum apapun. Makanya saya tidak terkejut ketika 13 tahun setelah Kongres Yogya, Anas juga menang di Kongres Partai Demokrat di Bandung 2010. Meski melawan jagoan SBY, Andi Mallarangeng dan pendiri partai Marzuki Alie, Anas lah yang justru terpilih. Kongres Demokrat terkesan seperti ulangan kongres HMI Yogya. Tentu saja dengan level dan konteks yang berbeda.

Yang istimewa, Anas memenangkan kontestasi-kontestasi politik tersebut dalam usia relatif muda. Dia menjadi Ketum PB HMI pada usia 28 tahun. Dan sudah menjadi Ketua Umum Partai Demokrat di usia 41 tahun. Ketua partai termuda ketika itu. Jelas ini jabatan bergengsi tinggi. apalagi Partai Demokrat berstatus sebagai pemenang Pemilu 2009.

*Masuk Pusat Gerakan*
Anas seolah sudah ditakdirkan menjadi pemain penting dalam perjuangan reformasi. Seusai Kongres HMI di Yogya, dia masuk dalam pusat gerakan mahasiswa di Jakarta. Posisinya sebagai Ketum PB HMI mengantarnya berkenalan dengan jajaran elit politik nasional. Namanya semakin diperhitungkan. Dia diundang berbicara di mana-mana. Baik di dalam kampus maupun di luar kampus.

Semua kiprah tersebut dengan sendirinya mengangkat level reputasi Anas. Dipadu penampilannya yang tenang dan tidak meledak-ledak. Gaya bicaranya pelan, runut, sistematis yang mencerminkan kedalaman ilmu. Meski pelan, tapi kritik-kritiknya tajam.

Di masa-masa akhir orde baru itu, Anas juga mendapat support dari senior-senior di HMI yang juga mengambil posisi sejalan dengan tuntutan mahasiswa. Alumni-alumni HMI seperti Dahlan Ranuwihardjo, Amien Rais, Nucholis Madjid, Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Ahmad Tirto Sudiro, Sulastomo berkontribusi memberi nutrisi bagi perjuangan gerakan reformasi.

Sedangkan alumni HMI di dalam lingkaran kekuasaan seperti Akbar Tanjung ikut meletakkan jabatan alias mengundurkan diri dari kabinet setelah melihat gelombang unjukrasa mahasiswa menuntut pergantian rezim sudah tidak bisa terbendung lagi. Total ada 14 menteri yang mundur ketika itu. Keputusan mundur menteri-menteri itu menjadi pukulan telak bagi Soeharto. Dan akhirnya menyatakan berhenti sebagai presiden pada 21 Mei 1998.

*Arsitek Paket UU Politik*
Pergumulan Anas dalam dunia pergerakan mahasiswa mengantarkannya menjadi sosok populer di tanah air. Kontribusi pemikiran, ide, gagasan tentang perubahan kehidupan kebangsaan pada akhirnya menjadi modal sosial penting bagi Anas di kemudian hari setelah orde baru tumbang.

Benar saja. Setelah tidak lagi menjadi Ketum PB HMI, Anas masuk Tim 11 atau Tim Seleksi Parpol untuk Pemilu 1999. Tim 11 diketuai Nurcholis Madjid (alm), anggota lain adalah Adi Andojo Sutjipto, Adnan Buyung Nasution (alm). Affan Gaffar (alm), Andi Malarangeng, Eep Saefullah Fatah, Kastorius Sinaga, Miriam Budiardjo (alm), Mulyana W Kusuma (alm) dan Rama Pratama. Nama terakhir adalah Ketua BEM UI masa reformasi.

Anas juga masuk Tim 7 yang membidani lahirnya paket UU Politik yaitu UU Parpol, UU Pemilu dan UU Susduk MPR, DPR dan DPRD. Tiga UU ini adalah fase awal gelombang demokratisasi di Indonesia. Kelahiran 3 UU tersebut langsung mengubah wajah politik Indonesia secara fundamental. Sejak itu, dua penyanggah utama rezim Soeharto yaitu birokrasi dan ABRI direformasi. Birokrasi harus netral. PNS tidak boleh terlibat partai politik. Lalu dwifungsi ABRI dicabut. Perubahan lain adalah dibukanya keran multi partai.

Tim 7 ini dipimpin Ryaas Rasyid dan anggota selain Anas adalah Affan Gaffar, Andi Mallarangeng, Djohermansyah Djohan, Luthfi Mutty dan Ramlan Surbakti.

Berikutnya, Anas terpilih menjadi anggota KPU RI periode 2001 – 2005. Saat itu, usianya baru 32 tahun. KPU periode ini paling banyak dihantam badai masalah. Sejumlah komisioner masuk penjara karena dijerat korupsi urusan logistik. Mereka adalah Nazaruddin Syamsudin (ketua), Mulyana W Kusuma, Rusadi Kantaprawira, Ahmad Rojadi dan Daan Dimara. Tapi Anas selamat.

Pada 8 Juni 2005, Anas mundur dari KPU. Lalu bergabung ke Partai Demokrat pada 2006. Pada Pemilu 2009 dia terpilih menjadi anggota DPR RI. Dan menjabat Ketua Fraksi Demokrat di DPR RI. Saat itu, Anas menjadi the rising star. Bintang muda politik yang bersinar terang. Dia kemudian memutuskan mencalon ketua umum pada Kongres Demokrat di Bandung Mei 2010. Dan menang. Anas menjadi ketua partai termuda. 41 tahun.

*Terseret Hambalang*
Setelah menjadi ketua umum Demokrat, Anas mencoba merangkul Cikeas. Dia tarik putra bungsu SBY, Edhi Baskoro Yudhoyono sebagai Sekjen. Semula duet ini dianggap kuat karena menyatukan kubu yang kalah. Bukan rahasia lagi kalau Anas bukan orang yang dikehendaki SBY memimpin Demokrat. Yang dijagokan SBY adalah Andi Mallarangeng.

Tapi riak-riak itu muncul setelah Nazaruddin, bendahara Demokrat ditangkap KPK. Nyanyian Nazarudin memercik ke mana-mana. Anas kemudian ditetapkan tersangka kasus Hambalang. Pada 2013, Anas mengundurkan diri dari Ketua Umum Partai Demokrat.

Di tingkat PN, Anas divonis 8 tahun. Berkurang jadi 7 tahun di tingkat banding. Lalu naik dua kali lipat di tingkat kasasi menjadi 14 tahun. Salah satu hakim kasasinya adalah Artidjo Alkostar. Tapi putusan PK, hukuman Anas kembali seperti putusan PN yakni 8 tahun. Plus denda Rp 300 juta, membayar uang pengganti Rp 57 miliar dan US$ 5,3 juta dan hak politik dicabut 5 tahun.

Selasa 11 April 2023 kemarin Anas resmi keluar dari penjara. Bebasnya Anas disambut para pendukung dan simpatisan yang telah membludak di sekitar komplek LP Sukamiskin.

Selamat mas Anas atas kebebasan yang diraih.

*_Penulis adalah alumni HMI Cabang Bengkulu dan Presidium Majelis Wilayah KAHMI Bengkulu 2016 – 2021 dan 2021 – 2026._*

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku