Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!
Alaku

Jelang Nataru PMI Siagakan Relawan Di Tiap Posko

MataDian.Com, Bengkulu – Dalam perayaan dan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bengkulu menurunkan tenaga relawan beserta sejumlah peralatan pendukungnya, yang ditempatkan di wilayah strategis dalam Provinsi Bengkulu.
Apalagi menurunkan tenaga relawan ke lapangan dalam rangka menjalankan tugas kemanusiaan ini, merupakan kegiatan rutin setiap tahun dilakukan oleh PMI, tidak saja di wilayah Provinsi Bengkulu, melainkan di seluruh Indonesia.
“Kita menurunkan tenaga relawan masing-masing 6 sampai 8 orang beserta peralatannya seperti, armada ambulance yang bersifat mobile, dan take boad di setiap posko-posko nataru yang didirikan Pemerintah Daerah bersama aparat kepolisian dan TNI serta tenaga kesehatan. Relawan kita sifatnya memback up tugas aparat di lapangan,” ungkap Ketua Bidang Relawan PMI Provinsi Bengkulu Mirwan Effendi, SE, M.Si dalam dialog Bengkulu Menyapa RRI Pro Satu Bengkulu dengan tema kesiap-siagaan relawan PMI hadapi Nataru pada Jumat, (24/12/2021).
Menurut Mirwan, sifat memback up tugas aparat di lapangan, relawan PMI akan membantu memeriksa mobilitas masyarakat yang melewati wilayah perbatasan, baik provinsi, kabupaten dan kota.
Termasuk, relawan PMI yang ditempatkan di posko wisata, akan memantau jika ada masyarakat yang tenggelam, seperti, di laut, sungai maupun danau.
Kemudian, relawan PMI yang juga ada tenaga kesehatannya, akan ikut membantu memberikan pertolongan pertama kepada korban, jika terjadi kecelakaan maupun bencana alam.
“Tenaga relawan yang kita turunkan, sebelumnya sudah terpilih dan telah mengikuti pelatihan dasar-dasar menjadi relawan, sehingga ketika turun di lapangan mengerti akan tugas dan tanggung jawabnya,” jelas Mirwan.
Senada dengan itu, Kadiv Relawan PMI Provinsi Bengkulu Fahrurrozi menjelaskan, tugas kemanusiaan yang dilaksanakan tenaga relawan PMI pada libur Nataru ini dimulai tanggal 24 Desember dan akan berakhir pada 2 Januari 2022 mendatang, lebih bersifat pertolongan pertama, jika terjadi kecelakaan maupun bencana alam misalnya.
Mengingat setelah itu, setiap korban untuk penanganan selanjutnya diserahkan kepada tenaga medis, seperti, membawa kerumah sakit maupun puskesmas terdekat.
“Belajar dari pengalaman sebelumnya, memang tenaga relawan yang kita turunkan ke lapangan benar-benar yang dianggap mampu dan cakap, meski tidak 24 jam full, tapi jika dibutuhkan akan langsung turun. Artinya, relawan dalam bekerja sudah mengetahui apa yang dilakukannya,” pungkas Fahrurrozi.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku